Sunday, October 7, 2012

Bangunan Manajemen Berbasis Sekolah



Banyak guru, kepala sekolah, bahkan kalangan dinas pendidikan yang melihat kebijakan pembaruan di bidang pendidikan secara terpotong-potong tidak menyeluruh. Mereka mungkin tidak salah karena mereka memperoleh dari berbagai sumber, kepentingan dan kegiatan yang berbeda. Kesan yang timbul seolah-olah banyak sekalik kebijakan baru yang membuat pusing sekolah. Bagan bangunan MBS dimaksudkan untuk menghilangkan kesan banyak sekali kebijakanb baru yang seolah-olah berdiri sendiri-sendiri.
1.    Bangunan Segi empat MBS dan daerah lingkaran
a)    Bangunan segi empat MBS merefleksikan proses pengelolaan pendidikan.
b)    Proses pembelajaran (PBM) digambarkan dalam bangunana lingkaran dengan garis-garis tebal karena proses ini lebih terfokus, direncanakan dengan sadar, materi dan metode serta sumber major yang spesifik dan dengan tujuan untuk mencapai kompetensi yang spesifik pula, sedangkan roses pendidikan di dalam sebuah sekolah merupakan wadah interasosial yang lebih luas dan beragam kegiatannya.
c)    Sumber Daya Pendidikan (SDP) merupakan sisi penopang penting untuk keberhasilan proses pembelajaran maupun prosees pendidikan pada umumnya pada suatu sekolah
d)    Kurikulum berbasis kompetensi menuntut inisiatif dan kreativitas guru, bahkan para guru baik secara sendiri atau kelompok dapat merumuskan silabus dan kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik.

2.    Atap Segitiga
Dalam bangunan MBS, terdapat atap segitiga akuntabilitas yang merujuk kepada standar nasional, akreditasi sekolah dan evaluasi independen oleh lembaga mandiri.
Kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan dasar dan menengah juga berfungsi sebagai standar nasional karena ditetapkan oleh pemerintah pusat.
Evaluasi merupakan bentuk akuntabilitas yang diberikan kepada satuan-satuan pendidikan, termasuk program-programnya.
Menurut pasal 61 UU Nomor 20 tahun 2003, sertifikat berbentuk ijazah dan sertifikat kompetensi.
Sertifikat kompetensi melalui uji kompetensi pada umumnya sangat populer untuk sekolah kejuruan dan kursus-kursus serta pelatihan keterampilan tertentu yang bersifa vokasional.
Berdasarkan pasal 61 UU Nomor 20 tahun 2003, p[ara pengambil kebijakan masih mempunyai ruang untuk mengatur pelaksanaannya.

3.    Lantai Prasyarat (SPM), Fondasi (Kebijakan Pemerintah Kabupaten/Kota) dan Lahan (Aspirasi Masyarakat)
Pelaksanaan MBS yang berwawasan mutu (MBS) akan sulit diwujudkan bahkan dalam kondisi tertentu tidak dapat dilaksanakan, kalau pemenuhan standar  pelayanan minimal sekolah (P-SPM-S) tidak dilaksanakan untuk mendukung sumber daya pendidikan (SDM) yang memadai. Sesuai dengan Kepmendiknas Nomor 044/U/2002, Dewan Pendidikan berperan menampung dan menyalurkan aspirasi tersebut, dengan fungsinya sebagai pendukung (turut mencari solusi dan pemecahan masalah), penasehat (pemberi saran), pengawas (ikut mengontrol) dan mediator (penghubung berbagai pihak untuk membantu pendidikan). Dalam praktik saling hubungan antarelemen tersebut sungguhpun merupakan parameter, tetapi pelaksanaannya elastis/fleksibel dan dinamis dan sangat ditentukan oleh loyalitas serta kesungguhan berbagai pihak terkait terhadap pelaksanaan sistem yang berlaku.

Saturday, September 22, 2012

CONTOH LAPORAN PKP

Berikut saya berikan contoh laporan PKP untuk rekan2 mahasiswa Universitas Terbuka 2012.2 yang saya ambil dari salah satu blog berikut link downloadnya (dibawah posting versi ms word).
silahkan di simak ....
 


Silahkan klik link di bawah ini untuk melihat kelanjutannya  :)




CONTOH YANG LAIN BISA DILIAT DI TAUTAN DI BAWAH INI  SINI

Thursday, September 6, 2012

RPP DAN SILABUS BAHASA LAMPUNG SD/MI

Setelah bersusah payah mencari RPP dan Silabus Bahasa Lampung untuk SD/MI, akhirnya saya  mendapatkannya.
Mungkin rekan-rekan guru juga mengalami hal yang serupa.
Berikut saya sajikan link downloadnya, baik perkelas, maupun seluruhnya .
Monggo langsung di download dengan mengklik salah satu gambar atau tulisannya !










































Untuk download seluruh kelas bisa di klik di sini
Format yang rekan-rekan download adalah versi PDF.
Untuk merubah/mengedit bisa menggunakan program edit PDF. di sini saya menggunakan infix 4.17.

Ok, sekian dulu posting saya kali ini. semoga bermanfaat !!!

Wednesday, August 15, 2012

Nasib Guru SD jaman sekarang

       Dalam dunia pendidikan, Keberadaan Peran dan Fungsi guru merupakan salah satu faktor yang sangat signifikan. Guru merupakan bagian terpenting dalam proses belajar mengajar, baik di jalur Pendidikan Formal, Informal, maupun Nonformal. Oleh sebab itu, dalam setiap peningkatkan kualitas Pendidikan di Tanah Air, Guru tidak dapat terlepaskan dari berbagai hal yang berkaitan dengan Eksistensi mereka.
Filosofi sosial budaya dalam Pendidikan di Indonesia, telah menempatkan fungsi dan Peran guru sedemikian rupa sehingga  peran guru  di Indonesia tidak jarang telah di posisikan mempunyai peran ganda  bahkan multi fungsi. Mereka dituntut tidak hanya sebagai Pendidik yang harus mampu mentransformasikan nilai-nilai Ilmu Pengetahuan, tetapi sekaligus sebagai Penjaga Moral bagi anak didik. Bahkan tidak jarang, Para Guru dianggap sebagai orang Kedua, setelah orang tua anak didik dalam Proses Pendidikan secara global.
Untuk itu guru harus memilki kualifikasi minimum, sertifikasi sesuai kewenangan mengajar yakni: menguasai bidang studi, memahami Peserta Didik, penguasaan Pembelajaran yang mendidik, memiliki Kompetensi Pedagogik, Kepribadian, Profesional, dan Sosial Sehat Jasmani dan Rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan Tujuan Pendidikan Nasional.
Namun kenyataannya masih banyak Permasalahan guru yang segera diselesaikan. Saat ini setidak-tidaknya ada empat hal yang berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi guru Indonesia, yaitu: Pertama, Masalah Kualitas/ Mutu Guru, Kedua, Jumlah Guru yang dirasakan masih kurang, Ketiga, Masalah distribusi guru, dan Keempat Masalah Kesejahteraan guru.[1]
1.      Masalah Kualitas Guru
Kualitas guru Indonesia, saat ini di sinyalir sangat memprihatinkan. Berdasarkan data tahun 2002/2003, dari 1,2 Juta guru SD saat ini, hanya 8,3 %nya yang berijazah sarjana. Realita semacam ini, pada akhirnya akan mempengaruhi kualitas Anak didik yang dihasilkan.
Padahal dalam peraturan Pemerintah (PP) No. 19 tahun 2005 tentang standar Nasioanal Pendidikan Pasal 29 menegaskan bahwa kualifikasi guru mulai jenjang PAUD-SLTA minimal DIV dan Sarjana S1.
Belum lagi masalah, di mana seorang guru (khususnya SD) sering mengajar lebih dari satu mata pelajaran yang tidak jarang bukan merupakan inti dari pengetahuan yang dimilikinya, hal seperti ini tentu saja dapat mengakibatkan Proses Belajar menjadi tidak maksimal.
2. Jumlah Guru Yang Masih Kurang
Jumlah guru di Indonesia saat ini masih kurang, apabila dikaitkan dengan jumlah anak didik yang ada. Oleh sebab itu, jumlah murid per kelas dengan jumlah guru yang tersedia saat ini, dirasakan masih kurang profesional, sehingga tidak jarang satu ruang kelas sering diisi lebih dari 50 anak didik. Sebuah angka yang jauh dari Ideal untuk sebuah proses belajar dan mengajar yang dianggap efektif. Idealnya, setiap kelas diisi tidak lebih dari 15-20 anak didik untuk menjamin  kualitas proses belajar mengajar yang maksimal.
3. Masalah Distribusi Guru
Masalah distribusi guru yang kurang merata, merupakan masalah tersendiri dalam dunia Pendidikan di Indonesia. Di daerah-daerah terpencil, masih sering kita dengar adanya kekurangan guru dalam satu wilayah, baik karena alasan keamanan maupun faktor-faktor lain, seperti masalah Fasilitas dan kesejahteraan guru yang dianggap masih jauh dari yang diharapkan.
4. Masalah Kesejahteraan Guru
 Sudah bukan menjadi rahasia umum, bahwa tingkat kesejahteraan guru-guru sangat memprihatinkan.Penghasilan para guru, dipandang masih jauh dari mencukupi, apalagi bagi mereka yang masih berstatus sebagai guru bantu atau guru honorer. Kondisi ini telah menjadikan para guru untuk mencari penghasilan tambahan, di luar dari tugas pokok mereka sebagai pengajar, termasuk berbisnis di lingkungan di mana mereka mengajar. Peningkatan kesejahteraan guru yang wajar, dapat meningkatkan profesionalisme guru, termasuk dapat mencegah para guru melakukan praktek bisnis di sekolah.



Monday, August 6, 2012

download soal-soal UKG guru kelas SD

udah lama gk posting, rasanya kangen jg dengan rekan2 guru.
berhubung sulitnya mencari soal-soal UKG untuk berlatih, maka berikut sy kasih contoh soal2 UKG yang berjumlah 182 soal
bisa di download di sini
via 4share


ID
Questions
Question Image
1
clip_image002
KD 1.1 Analisis Perkembangan Bahasa Anak Usia SD
Berikut ini adalah Karakteristik Anak Usia SD dari segi Mental, yaitu...________________
A.
Anak sudah memiliki gerakan yang bebas dan aman. Hal ini berguna untuk melakukan berbagai gerakan motorik kasar (jasmani) seperti memanjat, berlari dan menaiki tangga.
B.
Anak dapat menunjukkan kreativitasnya dalam membentuk sesatu karya tertentu
C.
Anak mulai tidak suka terikat dengan orang dewasa
D.
Anak menunjukkan tenggang rasa dan penghargaan terhadap teman

2
clip_image002[1]
KD 1.1 Analisis Perkembangan Bahasa Anak Usia SD
Berikut ini adalah Karakteristik Anak Usia SD dari segi Psikomotorik, yaitu...________________
A.
Anak sudah dapat memakai pakaian dengan rapi
B.
Anak dapat menciptakan sesiatu bentuk/benda dengan menggunakan alat
C.
Anak sudah mulai memahami beberapa konsep abstrak seperti menghitung tanpa menggunakan benda
D.
Anak menunjukkan kepedulian terhadap orang lain

3
clip_image002[2]
KD 1.1 Analisis Perkembangan Bahasa Anak Usia SD
Berikut ini adalah Karakteristik Anak Usia SD dari segi Emosionalitas, yaitu...________________
A.
Anak menunjukkan keceriaan dalam berbagai aktivitas bersama kelompok teman sebayanya
B.
Anak dapat memperlihatkan insiatif dan alternative untuk memecahkan masalah-masalah tertentu
C.
Anak sudah mulai memahami beberapa konsep abstrak seperti menghitung tanpa menggunakan benda
D.
Anak dapat menampilkan sifat ingin tahu

4
clip_image002[3]
KD 1.1 Analisis Perkembangan Bahasa Anak Usia SD
Memiliki kemampuan dalam melakukan koordinasi dan keseimbangan badan. Misalnya ketika berjalan atau berlari dengan berbagai pola adalah karakteristik perkembangan bahasa anak usia SD ditinjau dari segi ...________________
A.
Mental
B.
Psikomotorik
C.
Sosial
D.
Emosional

5
clip_image002[4]
KD 1.1 Analisis Perkembangan Bahasa Anak Usia SD
Anak dapat menampilkan sifat ingin tahu
adalah karakteristik perkembangan bahasa anak usia SD ditinjau dari segi ...________________
A.
Mental
B.
Psikomotorik
C.
Sosial
D.
Emosional

Wednesday, August 1, 2012

PGSD Menjadi Jurusan Favorit

Siapa yang tidak ingin masuk kuliah di perguruan tinggi Negeri atau favorit serta masuk jurusan yang favorit serta prospek ke depannya baik. Maka banyak orang yang berbondong-bondong untuk masuk ke perguruan tinggi yang dimaksud dengan harapan dapat cepat mendapat pekerjaan dan gaji tinggi setelah lulus. Sekarang masuk perguruan tinggi sangat sulit dan biayanya sangat besar. Maka bagi orang yang kurang mampu sangat mustahil untuk meneruskan ke tingkat universitas. Maka kuliah itu hanya untuk kalangan orang yang berduit. Maka sangat memprihatinkan bagi anak yang berprestasi tetapi kurang mampu. Walaupun ada beasiswa dari pemerintah, itupun tidak merata dan mungkin juga tidak terjangkau bagi anak-anak yang kurang beruntung. Apalagi dengan uang masuk perguruan tinggi atau bahasa lainnya sumbangan yang telah ditetapkan perguruan tinggi sangat memberatkan sekali bagi masyarakat yang memiliki anak yang akan masuk universitas.
PGSD anda pasti pernah mendengar kata-kata tersebut. PGSD atau Pendidikan Guru Sekolah Dasar yaitu jurusan yang pencetak guru-guru SD di Indonesia yang sekarang menjadi fenomena saat Ujian Masuk Perguruan Tinggi 3 tahun belakangana ini.
Sekarang banyak orang tua yang tidak ingin anak-anaknya salah masuk jurusan yang kurang pasti prospek kerjanya, maka banyak dari para orang tua yang mengarahkan para putra-putrinya untuk masuk ke jurusan PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar) Jurusan penghasil guru-guru SD di Indonesia. Hal yang menakjubkan saat penulis melihat jumlah pendaftar yang mendaftar di Universitas yang membuka Jurusan S1 PGSD seperti Universitas Negeri Semarang, Universitas Negeri Jogjakarta, Universitas Negeri Sebelas Maret (Solo), IKIP PGRI dan Universitas pembuka program S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Ternyata jumlah pendaftar di unniversitas penyelenggara PGSD  membludak sekian banyak dan menjadi jurusan yang terbanyak diserbu para calon Mahasiswa baru yang pasti menjadi jurusan favorit bagi anak dan para orang tuanya yang mengarahkan setelah lulus dari SMA.
Sangat menakjubkan sekali, karena menurut bagian administrasi di kampus PGSD UNNES Wonosari Ngaliyan Semarang 3 tahun yang lalu saat saya berbincang-bincang dan saya juga sempat melihat stastitik jmlah mahasiswa juga. Sbelum tahun 2004 jumlah mahasiswa dan peminat untuk kuliah di PGSD sangat sedikit sekali sehingga membuka beberapa kelas saja.
Hal yang kontras sangat terlihat dimana jumlah peminat untuk masuk PGSD untuk menjadi seorang guru SD meningkat pesat mulai tahun 2005 sampai 2010 sekarang ini. Pendaftar PGSD mengalahkan pendaftar dari jurusan favorit lain. Di UNNES saja pendaftar PGSD mencapai 6.000 pendaftar sedangkan jurusan lain hanya ratusan pendaftar, dapat kita bayangkan, sungguh fenomenal…  Kita tidak tau apa alasan yang melatarbelakanginya. Beberapa pendapat yang mungkin melatarbelakangi alasan masuk PGSD diantaranya yaitu
- cita-cita mejadi seorang guru SD
- prospek kerja yang menjanjikan setelah lulus
- kesejahteraan guru yang semakin baik
- tunjangan profesi guru yang lumayan besar
- isu pensiun guru SD masal di Indonesia
- selain bekerja guru juga beramal dengan mendidik siswa (dunia akhirat)
di atas adalah beberapa alasan yang melatarbelakangi masuk PGSD. Mungkin masih banyak alasan lain, tergantung dari individu yang bersangkutan.
Yang terpenting dari semua alasan untuk menjadi seorang guru adalah untuk memajukan pendidikan di Indonesia dan membentuk kepribadian anak yang baik serta ikhlas dalam mengabdikan diri demi kemajuan anak. Semoga pendidikan di negeri kita tercinta ini semakin baik. Dan semoga perguruan tinggi pencetak guru di Indonesia dapat mencetak guru-guru yang berkualitas. Jangan cuma memperbanyak mahasiswa untuk mencari keuntungan belaka tetapi juga harus memperhatikan kualitas output mahasiswanya yang akan menjadi calon guru berkualitas kelak dikemudian hari.

Tuesday, June 26, 2012

MODEL KURIKULUM ABAD KE-21



A.    PERSPEKTIF GLOBAL DALAM PENGEMBANGAN KURIKULUM
Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini, terutama teknologi informasi dan komunikasi, telah menyebabkan dunia ini semakin mengecil dan membentuk seperti sebuah desa dunia. Sehingga terasa tanpa batas atau disebut globalisasi. Pada modul yang lalu sedikit gambaran mengenai globalisasi yang diartikan sebagai suatu proses perubahan antar negara, antar bangsa dan antar budaya tanpa mengenal batas geosiosial politik atau geanasional idiologis. Seluruh dunia menjadi satu dan saling berkaitan dengan erat tanpa mengenal batas-batas yang jelas, apapun sifat batas-batas terseut. Selain itu, globalisasi menyangkut kesadaran bahwa dunia ini adalah suatu tempat, milik besama umat manusia. Dunia ini merupakan seuah lingkungan yang terbangun secara berkelanjutan, atau sebagai suatu proses dimana hambatan-hambatan geografis berkaitan dengan peraturan-peraturan sosial dan budaya semakin surut. Untuk itu diperlukan upaya-upaya untuk  mempersiapkan para siswa sekolah dasar sejak dini guna memasuki zaman global yang menuntut kemampuan-kemampuan khusus. Yang nantinya akan menjadi pelaku-pelaku utama pada zaman yang penuh dengan persaingan tersebut. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiba para guru untuk memberikan bekal kepada mereka agar bisa hidup (survei) di masa itu. Salah satu upaya untuk mempersiapkan sisiwa memasuki zaman global tersebut , yaitu dengan mengembangkan kurikulum sekolah dasar yang memuat perspektif global.
Ide mengenai perspektif global ini bermula dari negara Amerik Serikat sejak tahun 1950-an, dan perkembangannnya sangat pesat terjadi pada tahun 1970-an dimana perspektif global harus diajarkan di sekolah-sekolah di SD. Sebenarnya, perspektif global ini merupakan bagian dari ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran sebagai warga negara dunia yang berpartisipasi secara aktif.
Dalam kegiatan pengembangan kurikulum sekolah dasar, ide tentang perspektif globa ini dimunculkan untuk memberikan wawasan kepada para sisiwa dalam menghadapi kehidupan di masa mendatang yang diwarnai dengan adanya kemajuan-kemajuan dalam bidang teknologi informasi yang menyebabkan dunia ini mengecil cakupannya membentuk sebuah desa dunia. Pengaruh kemajuan teknologi informasi dan transportasi saat ini memungkinkan orang bisa saling berkomunikasi kapan saja dan dengan siapa saja, misalnya melalui telepon dan surat elektronik (email) kita dapat pula mengetahui peristiwa di belahan dunia mana saja hanya dengan menonton siaran televisi.
Kurikulum yang bercorak perspektifglobal adalah kurikulm yang juga memuat wawasan global, bukan hanya nasinal ataupun lokal. Kurikulum tersebut haus mampu membawa siswa untuk berpikir global dalam arti siswa mampu mengumpulkan informasi sebanyak mungkin dan informasi terseut dapat digunakan sebagai pajangan yang mengarahkan mereka menjadi warga negara yang produktif dan menjadi insan yang mempunyai kepedulian sosial terhadap orang lain di sekitarnya mampu bekerja sama, saling ketergantungan secara  harmonis.


B.     MODEL-MODEL KURIKULUM UNTUK ABAD KE-21
Dalam dunia pendidikan kita dewasa ini, perlu dikaji beberapa kemungkinanan modal kurikulum yang bisa diterapkan di sekolah dasar sebagai upaya untuk mencari pendekatan pemecahan masalah pendidikan, khususnya masalah pengembangan kurikulum sekolah dasar yang lebih cocok diterapkan pada era sekarang dan masa datang. Di sini kita akan diperkenalkan dengan tiga model kurikulum yang bisa diterapkan di sekolah dasar masa depan. Agar kita dapat memutuskan model kurikulum mana yang cocok diterapkan disekolah dasar tempat anda bertugas.
1.      Model kurikulum berbasis kompetensi
Model kurikulum berbasis kompetensi sebenarnya sudah berkembang sejak lama dan merupakan pengaruh daari munculnya pendidikan berdasarkan kompetensi yang menekankan pada pengembangankemampuan untuk melakukan tugas-tugas tertentu sesuai dengan standar performans yang telah ditetapkan. Pada tahun 1970-an konsep pendidikan berdasarkan kopetensi (PBK) atau campetency-based education (CBE) mulai banyak digunakan di dunia pendidikan.
Model kurikulum yang diterapkan dalam proses pendidikan di negara kita pada semua jenjang pendidikan, yaitu kurikulum KBK. Model kurikulum tersebut dibutuhkan di masa mendatang dengan harapan akan mampu membekali para siswa dalam menghadapi tantangan hidupnya di kemudian hari secara mandiri, cerdas kritis, rasinal dan kreatif. Kompetensi-kompetensi yang dikembangkan dalam kurikulum tersebut diarahkan untuk memberikan bekal keterampilan hidup di era globalisasi yang penuh dengan perubahan, pertentangan, ketidakmenentuan, ketidak pastian dan kerumitan –kerumitan dalam kehidupan.

2.      Model kurikulum berbasis masyarakat
Pendidikan pada dasarnya merupakan upaya mengembangkan manusia yang memiliki karakteristik dan sifat-sifat yang diperlukan baik oleh dirinya sebagai pribadi maupun oleh masyarakatnya. Menurut S. Hamid Hasan (2000) mengatakan bahwa pemahaman dan proses pengembangan diri di kelas, lingkungan sekolah dan lingkungan lainnya sangat ditentukan oleh pengetahuan dan kepribadian dasar yang terbentuk oleh budaya yang ada dilingkungan masyarakat di mana siswa itu berada.
Salah satu ciri masyarakat adalah selalu berkembang, perkembangan masyarakat dipengaruhi oleh falsafah hidup, nnilai-nilai iptek, dan kebutuhan yang ada dalam masyarakat untuk terciptanya proses pendidikan yang sesuai dengan perkembangan masyarakat maka diperlukan rancangan berupa kurikulum yang landasan pengembangannya memperhatikan faktor perkembangan masyarakat.
Kurikulum berbasis masyarakat bisa dikembangkan  baik dalam lingkup nasinal, regional, maupun lingkup lokal oleh guru di sekolah. Apabila kurikulum itu dikembangkan oleh guru tanpa kaitan dengan kurikulum manapun, maka guru tersebut melakukan pendekatan pengembagnan kurikulum yang bersifat grass-root. Ciri utama kurikulum berbasis masyarakat yaitu keterkaitan berbagai komponen kurikulum dengan berbagai aspek dan dimensi kehidupan masyarakat, baik dalam bentuk kurikulum sebagai dokumen/rencana tertulis maupun dalam bentuk proses pembelajarannya. Tujuan yang ingin dicapai kurikulum, yaitu manusia yang memiliki kualitas yang diperlukan untuk pelestarian dan pengembangan kehidupan masyarakat.
Dalam satu tulisan yang cuku monumental, John D. MC. Neil (1990) mengemukakan model kurikulum yang lebih memusatkan perhatiannya pada problem-problem yang dihadapi siswa dalam masyarakat, model kurikulum terseubt dinamakan model kurikulum rekonstruksi sosial (social reconstruksional)

3.      Model Kurikulum Konstruktivistik
Model kurikulum ini dilatarbelakangi oleh munculnya filsafat pengetauhan yang banyak mempengaruhi perkembangan pendidikan (terutama sains dan matematika) yaitu filsafat konstruktivisme. Aliran filsafat ini menekankan bahwa pengetahuan adalah hasil konstruksi (buatan) manusia. Dalam filsafat konstruktuivisme, pengetahuan tidak dapat ditransfer bigut saja dari seorang kepada yang lainnya, tetapi harus diinterprestasikan sendiri oleh masing-masing orang. Setiap orang harus mengkonstruksi pengetahuannya masing-masing orang dan setiap orang harus mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi melainkan suatu proses yang berkembang terus menerus.
Dalam proses itu keaktifan seseorang yang ingin tahu amat berperan dalam perkembangan pengetahuannya. Pengetahuan tidak lepas dari subjek yang sedang belajar, pengetauhan lebih dianggap sebagai proses pembentukan (konstruksi_ yang terus menerus, berkembang dan berubah. Teori yang dulu dianggap sudah kuat an tetap, bisa saja berubah karena tidak lagi dapat memberikan penjelasan yang memadai.
Menurut Driver dan Belll (Suparna, 1997), ilmu pengetahuan bukanlah hanya kumpulan hukum atau daftar fakta, tetapi merupakan ciptaan pikiran manusia dengan semua gagasan dakonsepnya yang ditemukan secar abebas dalam kurikulum ini kurikulum bukan kumpulan bahan yang sudah ditentukan sebelumnya untuk diajarkan, melainkan lebih sebagai suatu persoalan yang perlu dipecahkan oleh para siswa untuk lebih dimengerti.