Wednesday, May 14, 2014

PANDANGAN KRITIK SOSIAL DALAM PEMBELAJARAN (TEORI BELAJAR HUMANISTIK)



Perubahan konsep mengenai pendidikan dan pengajaran terjadi pada abat ke 20 . Perubahan tersebut membawa perubahan cara mengajar di sekolah.
         Apa bila kita meneliti dunia pendidikan dalam praktek, masih banyak dijumpai guru – guru yang beranggapan bahwa pekerjaan mereka tidak lebih dari menumpahkan air ke dalam botol kosong. Guru yang benar-benar dapat berhasil adalan guru  yang menyadari bahwa ia mengajarkan sesuatu kepada manusia – manusia yang berharga dan berkembang. Pekerjaan guru lebih psikologis bila dibandingkan dengan dokter,insinyur atau yang lainnya.
Guru hendaknya mengenal anak didik serta menyelami kehidupan jiwa anak didik sepanjang waktu
Teori yang dapat dikembangkan salah satunya adalah teori HUMANISTIK

A. TEORI BELAJAR  HUMANISTIK
Menurut teori humanistik,proses belajar harus dimulai dan ditujukan untuk memanusiakan manusia itu sendiri. Oleh karena itu teori ini sifatnya lebih abstrak dan lebih mendekati bidang kajian filsafat,teori kepribadian dan psikoterapi,dari pada kajian psikologi belajar.
            Dalam pelaksanaanya teori ini antara lain tampak dalam pendekatan belajar yang dikemukakan oleh Ausbel. Pandanganya tentang belajar bermakna atau meaningful learning mengatakan bahwa belajar merupakan asimilasi bermakna.materi yang dipelajari diasimilasikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya.
            Teori humanistik berpendapat bahwa teori belajar apapun dapat dimanfaatkan asalkan tujuannya untuk memanusiakan manusia, maksutnya : mencapai aktualisasi diri, serta realisasi diri orang yang belajar secara obtimal.
            Kolb seorang ahli penganut aliran humanistik membagi tahap-tahap belajar menjadi empat

  1. Tahap Pengalaman Kongkrit
Pada tahap ini peristiwa belajar adalah seseorang mampu atau dapat mengalami sesuatu peristiwa atau sesuatu kejadian sebagai mana adanya,dan belum mengetahui hakikat dari peristiwa tersebut.

  1. Tahap Pengamatan Aktif dan Reflektif
Bahwa seseorang semakin lama akan semakin mampu melakukan observasi secara aktif terhadap peristiwa yang dialaminya. Ia mulai untuk mencari jawaban dan pemikiran kejadian tersebut. Ia melakukan refleksi terhadap peristiwa yang dialaminya dengan mengembangkan pertanyaan-pertanyaan bagai mana hal itu bisa terjadi , dan mengapa hal itu mesti terjadi.

  1. Tahap Konseptualisasi
Pada peristiwa belajar tahap ini seseorang mulai berupaya untuk membuat abstraksi, mengembangkan suatu teori , konsep atau hukum dan prosedur tentang sesuatu yang menjadi objek perhatianya. Berpikir induktif banyak dilakukan untuk merumuskan sesuatu aturan umum atau generalisasi dari berbagai contoh peristiwayang di alaminya.




      4. Tahap Eksperimen Aktif
          Peristiwa belajar tahap ini adalah melakukan eksperimentasi secara              aktif. Pada tahap ini seseorang sudah mampu mengaplikasikan konsep – konsep, teori-teori atau aturan-aturan kedalam situasi nyata.
            Tahap belajar yang dikemukakan Kolb, merupakan suatu siklus yang berkesinambungan  dan berlangsung diluar kesadaran orang yang belajar.

Tokoh teori Humanistik yang lain adalah Honey dan Munford
Menurut Honey dan Mumford orang yang belajar dibagi menjadi empat kelompok, yang berbeda karakteristiknya

         1. Kelompok Aktivis
             Yang termasuk kelompok ini adalah mereka yang senang melibatkan diri dan berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan dengan tujuan untuk memperoleh pengalaman – pengalaman baru. Orang tipe ini mudfah diajak berdialog,memiliki pemikiran terbuka,menghargai pendapat orang lain, namun dalam bertindak sering kali kurang pertimbangan yang matang. Metode yang cocok untuk tipi ini adalah problem solving, braimstorming.

       2. Kelompok reflektor
            Kelompok ini mempunyai kecenderungan berlawanan dengan kelompok aktivis. Dalam melakukan tindakan orang tipe ini sangat berhati-hati dan penuh pertimbangan

3.      Kelompok Teoris
Kelompok ini mempunyai kecenderungan yang sangat kritis , suka menganalisis, selalu berfikir rasional dengan menggunakan penalaranya

4. Kelompok Prakmatis
           Kelompok ini mempunyai sifat yang praktis tidak suka berbicara dan membahas sesuatu dengan teori-teori , konsep-konsep,dalil-dalil dan sebagainya. Bagi mereka yang penting adalah aspek-aspek praktis, sesuatu yang nyata dan dapat dilaksanakan.

Menurut Habermas belajar baru akan terjadi jika ada interaksiantara individu dengan lingkunganya. Lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan alan atau lingkungan sosial.
Habermas membagi tipe belajar menjadi tiga bagian
1.      Belajar Teknis, adalah belajar bagaimana seseorang dapat berinteraksi dengan lingkungan alamnya secara benar. Pengetahuan dan ketrampilan apa yang dibutuhkan dan perlu dipelajari agar mereka dapat menguasai dan mengelola lingkungan alam sekitarnya dengan baik.

2.      Belajar Praktis. Adalah belajar bagai mana seseorang dapat berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, yaitu dengan orang – orang yang ada di sekelilingnya dengan baik.

3.      Belajar emansipatoris. Belajar ini menekankan upaya agar seseorang mencapai suatu pemahaman dan kesadaran yang tinggi akan kejadian perubahan atau transformasi budaya dalam lingkungan sosialnya.

Aplikasi Teori Belajar Humanistik dalam Kegiatan Pembelajaran
Teori belajar Humanistik sering di kritik karena sulit di terapkan dalam konteks yang lebih praktis.                                                                                                                                                                        
Teori ini di anggap lebih dekat dengan bidang filsafat,teori kepribadian, dan psikoterapi dari pada bidang pendidikan , sehingga sukar menerjemahkannya ke dalam langkah-langkah yang lebih kongkret dan praktis
Teori belajar humanistik akan sangat membantu para pendidik dalam memahami arah belajar pada dimensi yang lebih luas, sehingga upaya pembelajaran apapun dan pada kontes manapun akan selalu diarahkan dan dilakukan untuk mencapai tujuanya .
Menurut teori humanistik,agar belajar lebih bermakna bagi siswa,maka diperlukan inisiatif dan keterlibatan penuh dari siswa sendiri, sehingga siswa mendapatkan pengalaman belajar.

Langkah – langkah pembelajaran dengan endekatan humanistik yaitu :
  1. Menentukan tujuan – tujuan pembelajaran
  2. Menentukan materi pelajaran
  3. Mengidentifikasi  kemampuan awal siswa
  4. Mengidentifikasi topik-topik pelajaran yang memungkinkan siswa secara aktif melibatkan diri dalam belajar.
  5. Merancang fasilitas belajar seperti lingkungan dan media pembelajaran.
  6. Membimbing siswa secara aktif.
  7. Membimbing siswa untuk memahami hakikat atau makna dari pengalaman belajarnya.
  8. Membimbing siswa membuat konseptualisasi pengalaman belajarnya.
  9. Membimbing siswa dalam mengaplikasikan  konsep-konsep baru kedalam situasi nyata.
  10. Mengevaluasi proses dan hasil belajar.

No comments:

Post a Comment